Oleh. Moh Makrus Sahlan
JAWA TIMUR — Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan literasi di Indonesia masih memerlukan perhatian bersama. Rendahnya minat baca, maraknya disinformasi di media sosial, serta menurunnya budaya diskusi mendalam memicu komunitas literasi untuk terus bergerak. Salah satunya melalui optimalisasi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai ruang belajar alternatif yang inklusif.
Gerakan inilah yang melandasi Forum TBM Jawa Timur menggelar Jambore Literasi TBM Jawa Timur 2026. Berlokasi di TBM Al-Madinah, acara ini berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu (15–16/5), sebagai wadah silaturahmi, penguatan jejaring, dan berbagi praktik baik (best practice) pengelolaan TBM.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Puji Retno Hardiningtyas, didampingi perwakilan Tim Kerja Literasi BBP Jatim, Amin Mulyanto. Turut hadir pula Pembina Forum TBM Jatim Dwi Astutik, serta Neng Eva Munif Djazuli.

Ketua Forum TBM Jawa Timur, Jauharul Abidin, menegaskan bahwa TBM memegang peran krusial dalam membangun budaya baca, kreativitas, dan kolaborasi. “Gerakan literasi membutuhkan dukungan multipihak, baik pemerintah, komunitas, maupun dunia pendidikan agar program ini berkelanjutan,” ujarnya.
Senada dengan hal itu, Kepala BBP Jatim Puji Retno Hardiningtyas menyoroti tantangan di era digital. Menurutnya, literasi hari ini tidak lagi sebatas mengeja dan menulis, melainkan kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bijak.
“TBM memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital,” kata Puji, sembari mengapresiasi dedikasi para pegiat literasi di lapangan.
Selain pemaparan materi, acara juga diisi dengan sesi refleksi malam bertajuk “Panggung Literasi Budaya Jatim”. Di sini, para pegiat berdialog hangat mengenai masa depan literasi berbasis komunitas. Mereka sepakat bahwa orientasi TBM harus meluas, bukan sekadar tempat membaca buku, melainkan motor pemberdayaan sosial.
Pembina Forum TBM Jatim, Dwi Astutik, menambahkan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana mengonversi aset sosial di TBM menjadi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. “TBM adalah ruang tumbuhnya aset sosial yang jika diolah bersama mitra pemerintah, akan menjadi kekuatan pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan bersama,” tuturnya.
Acara ditutup dengan ungkapan syukur dari Pendiri TBM Al-Madinah, Abdurochman. Selaku tuan rumah, ia menyampaikan apresiasi mendalam atas antusiasme peserta yang hadir demi kemajuan literasi di Jawa Timur.
![]()












