Nalar  

Layanan Psikosial Pasca Bencana Melalui Literasi

Laporan khusus Kompas di tahun 2010 memaparkan fakta gamblang yang masih tetap sering dilupakan, “bencana yang mengancam di Indonesia bukan hanya dari alam yang tengah mencari keseimbangan baru, tetapi juga karena ulah manusia sendiri yang harus bijaksana mengelola alam.” Secara natural, Indonesia memang selalu dalam ancaman bencana sebab berada di kawasan Cincin Api Pasifik, lokus bertemunya lempeng-lempeng tektonik utama dunia, yang juga ditandai oleh ratusan gunung berapi yang secara bergiliran akan meletus dari waktu ke waktu (Leksono, 2010).

Laporan berusia 15 tahun tersebut menggambarkan betapa memang Indonesia tak pernah sepi dari bencana dan memberi ingatan penting terkait kewaspadaan tanpa henti terhadap bencana yang dapat hadir kapan saja dan di mana saja. Kisah bencana alam seolah menjadi siklus yang terus berulang, dan sepanjang tahun 2025 kita kembali menyaksikan tragedi memilukan di berbagai daerah. Berdasarkan data terbaru dari BNPB, wilayah Pulau Sumatra menjadi salah satu titik terdampak paling parah dengan sebaran bencana yang meluas mulai dari ujung utara hingga ke wilayah barat. Titik-titik bencana tersebut teridentifikasi di wilayah Aceh (mencakup Banda Aceh, Pidie, dan Aceh Tamiang), Sumatra Utara (Nias Selatan dan Tapanuli Utara), hingga Sumatra Barat (Pasaman Barat, Mentawai, dan Padang Pariaman).

Rekapitulasi Terdampak Bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat
Sumber: website BPNPB, 2025

Merujuk pada laporan “Rekapitulasi Terdampak Bencana per tanggal 27 Desember 2025”, bencana ini telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat masif di 52 kabupaten/kota. Krisis ini mencatatkan angka kematian yang memprihatinkan, di mana sebanyak 1.137 jiwa dinyatakan meninggal dunia. Wilayah Aceh Utara menjadi daerah dengan angka fatalitas tertinggi sebanyak 205 jiwa, diikuti oleh Agam dengan 192 jiwa, dan Tapanuli Tengah dengan 133 jiwa. Selain itu, duka mendalam masih menyelimuti keluarga dari 163 jiwa yang hingga kini masih dinyatakan hilang. Selain itu, terdapat 457,2 ribu jiwa yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mengungsi. Konsentrasi massa pengungsi terbesar terpantau berada di wilayah Aceh Utara dengan jumlah 166,9 ribu jiwa dan Aceh Tamiang sebanyak 150,5 ribu jiwa.

Besarnya skala bencana ini juga tercermin dari kerusakan infrastruktur pemukiman yang sangat luar biasa. Tercatat sebanyak 157.838 unit rumah terdampak, dengan rincian 47.165 unit rusak berat, 33.276 unit rusak sedang, dan 77.397 unit mengalami rusak ringan. Lebih jauh lagi, bencana ini telah melumpuhkan urat nadi kehidupan masyarakat dengan merusak berbagai fasilitas publik esensial. Sektor layanan dasar mengalami pukulan hebat akibat rusaknya 3.188 fasilitas pendidikan dan 215 fasilitas kesehatan. Kehidupan sosial-spiritual masyarakat pun terdampak dengan kerusakan pada 806 rumah ibadah. Tantangan pemulihan semakin berat karena akses transportasi terputus di banyak titik. Tercatat 98 jembatan terputus dan 101 titik jalan rusak parah, yang secara langsung menghambat distribusi bantuan logistik serta mobilitas tim kemanusiaan di wilayah-wilayah terdampak.

Fokus pada dukungan psikososial

Deretan angka tersebut bukan semata statistik, tetapi  memberikan alarm tentang urgensi penyediaan hunian darurat serta rencana rehabilitasi jangka panjang yang komprehensif bagi para penyintas. Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa korban bencana, khususnya anak-anak, sering kali mengalami dampak psikologis yang signifikan, termasuk trauma dan gangguan mental (Khairunnisa dkk., 2024). Berbagai metode terapi psikologis, seperti hipnosis, SEFT (Self-Emotional Freedom Technique atau Terapi Berbasis Pengobatan Mandiri), terapi seni, dan terapi bermain, telah terbukti efektif dalam mengurangi gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) serta mendukung pemulihan emosional dan psikologis (Wardani dan Sari, 2025).

Kecemasan anak juga dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat yang masih mengalami kecemasan atas pengalaman yang sama. Namun, respons masyarakat dalam memberikan dukungan sosial kepada anak-anak perlu menjadi perhatian demi resiliensi kolektif dan pertumbuhan pascatrauma (post-traumatic growth) pada anak (Hanafi dkk., 2024). Sebagai kelompok yang rentan, anak-anak menghadapi tantangan unik dalam menghadapi situasi bencana karena keterbatasan kemampuan, sumber daya, dan adaptasi psikologis yang belum matang (Jumilia dan Kanathasan, 2024). Selain itu, trauma pascabencana dapat memiliki risiko lebih tinggi menimbulkan gangguan stres pascatrauma dibandingkan dengan peristiwa traumatis lainnya (Rahmawati, 2023).

Memperhatikan kondisi tersebut, penanganan pasca trauma menjadi urgensi, terutama bagi anak-anak. Beberapa riset memaparkan bahwa strategi pemulihan pascatrauma menjadi hal yang dapat membantu anak-anak pulih secara psikologis. Terapi bermain mewarnai kelompok terbukti efektif membantu anak-anak terdampak letusan Semeru mengekspresikan emosi, merasa rileks, dan membangun kembali interaksi sosial, sehingga mereka tampak lebih bahagia dan bersemangat (Rahmawati dkk., 2023). Demikian pula, terapi Randai, pertunjukan tradisional Minangkabau, terbukti mampu menurunkan gejala trauma pada anak-anak korban gempa melalui keterlibatan kreatif, budaya, dan komunal (Jumilia dan Kanathasan, 2024). Selain itu, temuan kualitatif dari pemulihan pascaerupsi di Lumajang menunjukkan bahwa dukungan sosial yang kuat serta aktivitas keagamaan berperan penting dalam proses pemulihan psikologis anak-anak (Hanafi dkk., 2024). Secara keseluruhan, studi-studi ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis budaya, kolektif, dan partisipatif, yang memadukan permainan, seni, tradisi, dan spiritualitas, sebagai strategi intervensi pascatrauma yang berkelanjutan bagi anak-anak di komunitas terdampak bencana.

Strategi pemulihan melalui literasi

Strategi trauma healing melalui literasi misalnya dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Melalui pendekatan literasi yang ramah anak, Kegiatan yang dilaksanakan secara serentak pada 13–16 Desember 2025 menjadi bagian pendampingan psikososial bagi anak-anak korban banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pendekatan literasi dipilih karena mampu menciptakan suasana yang aman, menenangkan, dan menyenangkan bagi anak-anak yang mengalami tekanan psikologis pascabencana (Kemdikdasmen, 2025). Strategi psikososial untuk anak-anak terdampak banjir bandang juga dilakukan oleh Forum TBM di Aceh Timur, Aceh dan Agam, Sumatra Barat. Forum TBM berupaya menghadirkan kegiatan psikosial agar anak-anak dapat kembali membaca, bermain, dan merasa aman.

Bercerita mengenai buku-buku yang relevan dengan dunia anak menjadi salah satu strategi trauma healing. Studi oleh Maryam dkk. (2023) memaparkan bahwa intervensi literasi dan numerasi yang dilakukan oleh relawan mahasiswa terhadap siswa SD terdampak gempa Cianjur terbukti efektif sebagai media trauma healing. Metode yang interaktif dan menyenangkan, seperti bernyanyi, bercerita, bermain, berlomba, serta menciptakan yel-yel penyemangat menjadi media untuk trauma healing. Keterlibatan dalam aktivitas literasi tersebut tentu saja diharapkan dapat membantu anak-anak bertransisi dari kondisi kecemasan menuju pertumbuhan psikologis yang positif dengan memulihkan rasa normal dalam keseharian mereka.

Dalam strategi trauma healing melalui literasi, biblioterapi misalnya, memanfaatkan bahan bacaan (seperti buku, cerita, atau puisi) untuk membantu individu dalam proses pemulihan kesehatan mental, pertumbuhan pribadi, atau pemecahan masalah. Dalam konteks post trauma, biblioterapi menyediakan ruang kreatif dan sastra di mana individu dapat menyentuh materi psikis yang bersifat terselubung maupun terbuka, lalu memprosesnya (Ifrah, 2025). Ifrah (2025) menyatakan bahwa penggunaan proses membaca dan menulis dapat digunakan dalam terapi, selain juga untuk proses pendidikan untuk pemberdayaan anak.

Anak-anak adalah harapan tertinggi dan aset paling signifikan bagi bangsa mana pun dan mereka merupakan kelompok paling rentan yang membutuhkan bimbingan yang tepat. Oleh karena itu, kesejahteraan mereka di masa kini sangat krusial bagi kesejahteraan mereka di masa depan (Sharma, Panackal, dan Rautela, 2025). Dalam konteks tersebut, biblioterapi memberikan pemahaman mendalam tentang masalah yang mereka hadapi serta membantu mengidentifikasi dan mengeksplorasi solusi-solusi yang memungkinkan. (Sharma, Panackal, dan Rautela, 2025).

Memperhatikan riset-riset tersebut, dalam situasi pasca bencana, pemulihan secara menyeluruh dalam situasi pasca bencana menjadi hal yang utama. Dan semua daya upaya harus dilakukan untuk memulihkan ruang hidup masyarakat. Selain tentu saja perhatian pada sisi mentalitas anak-anak. Layanan Psikosial Pasca Bencana Melalui Literasi, menjadi salah satu bagian untuk membantu memulihkan anak-anak yang merupakan pemilik masa depan.

Daftar Pustaka

Hanafi, H., Hidayah, N., Rusmana, N., Asrowi, Apriani, R., Saputra, N. M. A., Ilmi, A. M., Kurniawan, N. A., & Fitriyah, F. K. (2024). Exploring post-traumatic growth in child survivors of the Semeru eruption: The role of religious and social support in recovery. Child Education Journal, 6(3), 141–149. https://doi.org/10.33086/cej.v6i3.6838

Ifrah, S. (2025). On the potential of bibliotherapy to heal the psyche. Journal of Poetry Therapy, 1–12. https://doi.org/10.1080/08893675.2024.2447602

Jumilia, J., & Kanathasan, J. S. (2024). Trauma healing therapy for post-earthquake children using traditional Randai approach. International Journal of Nursing Information, 3(2), 1–8. https://doi.org/10.58418/ijni.v3i2.109

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025, Desember). Lewat buku dan dongeng, Kemendikdasmen dampingi pemulihan trauma anak-anak terdampak banjir (Siaran Pers No. 898/sipers/A6/XII/2025). https://balaibahasasultra.kemendikdasmen.go.id/lewat-buku-dan-dongeng-kemendikdasmen-dampingi-pemulihan-trauma-anak-anak-terdampak-banjir/

Khairunnisa, P., Melati, A. S., Pramudilla, D., Putri, N. I., & Putri, D. I. (2024, Oktober 30–31). Literature review: Traumatic counseling to address mental health in post-natural disaster victims [Presentasi makalah]. 1st International Seminar of Islamic Counseling and Education Series (ISICES), Pekanbaru, Indonesia.

Maryam, S., Ningsih, D. N., Halimah, H., & Setiawan, E. (2023). Pembelajaran literasi sebagai dukungan psikososial. Pedagogi: Jurnal Penelitian Pendidikan, 10(2), 173–182. https://doi.org/10.25134/pedagogi.v10i2.8228

Rahmawati, I., Sulistyorini, L., Septiyono, E. A., Juliningrum, P. P., Merina, N. D., & Rizanti, A. P. (2023). Group Coloring Therapy As Trauma Healing For Child Community Affected By Mount Semeru Eruption: A Case Study. Journal of Rural Community Nursing Practice1(1), 112–123. https://doi.org/10.58545/jrcnp.v1i1.98

Sharma, A., Panackal, N., & Rautela, S. (2025). Unlocking imagination, healing hearts: a comprehensive study of more than 70 years of bibliotherapy for children. Journal of Poetry Therapy38(3), 273–285. https://doi.org/10.1080/08893675.2024.2368115

Wardani, D. W., & Sari, J. D. E. (2025). Psychological interventions in addressing posttraumatic stress disorder among natural disaster survivors: A systematic literature review. Journal of Community Mental Health and Public Policy, 8(1), 59–71. https://doi.org/10.51602/cmhp.v8i1.330

Penulis: Anggi AfriansyahEditor: Heri
Exit mobile version