Oleh. Moh. Makrus Sahlan*
SIDOARJO – Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kelurahan Pucang, Kecamatan Sidoarjo, tidak hanya menghadirkan karnaval budaya dan kreativitas warga. Kegiatan yang digelar Minggu (23/8/2026) tersebut juga membawa pesan literasi lingkungan hidup melalui ruang taman bacaan Jelajah Selindu.
Dipusatkan di sepanjang Jalan Pucang, karnaval berlangsung meriah sejak pagi. Setiap RT menampilkan tema masing-masing, mulai dari kostum pahlawan nasional hingga busana adat Nusantara.
Kreativitas warga semakin menarik karena sejumlah kostum dan properti dibuat dari barang bekas. Botol plastik, kardus, dan berbagai bahan bekas disulap menjadi karya yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan lingkungan.
Kegiatan ini juga melibatkan juri dari India dan Kenya yang berkolaborasi bersama tim juri dari Indonesia. Kehadiran mereka menjadi daya tarik tersendiri sekaligus membuka ruang interaksi lintas budaya dalam perayaan kemerdekaan.
Makrus Sahlan, Pegiat Literasi Jawa Timur dan Penggerak Jelajah Selindu, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menghadirkan literasi lingkungan hidup di tengah perayaan kemerdekaan.
“Jelajah Selindu membuka ruang taman bacaan di tengah semarak kemerdekaan. Literasi lingkungan mengajak warga melihat budaya daur ulang bukan sekadar menjaga lingkungan, tetapi juga membuka nilai ekonomi, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Makrus.
Makrus bersama Dito, Ketua Ekraf Sidoarjo, turut berkolaborasi sebagai bagian dari tim juri. Keduanya melihat perlombaan kemerdekaan bukan sekadar ajang menentukan pemenang, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan semangat warga.
“Perlombaan kemerdekaan bukan hanya soal menang dan kalah. Di dalamnya ada semangat warga untuk tetap hidup merdeka dan mempertahankan budaya gotong royong,” ujar Makrus dan Dito.
Selain karnaval, panitia menghadirkan bazar UMKM warga Pucang dan panggung hiburan rakyat. Ratusan warga turut memadati lokasi dan menikmati rangkaian kegiatan.
Bagi warga, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial. Pak Heru, salah satu warga Kelurahan Pucang, mengatakan kebersamaan menjadi bagian penting dalam menjaga kerukunan masyarakat.
“Kebersamaan warga seperti ini menjadi salah satu pondasi kerukunan. Ketika warga bisa berkumpul, saling membantu, dan terlibat dalam kegiatan bersama, rasa guyub dan persaudaraan akan semakin kuat,” ujarnya.
Kepedulian terhadap lingkungan tetap menjadi bagian dari kegiatan. Warga membawa tumbler masing-masing, sementara panitia menyediakan bank sampah keliling selama acara berlangsung.
Ketua Panitia, Cak Jamie, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan.
“Atas nama panitia, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga, donatur, sponsor, tokoh masyarakat, dan semua pihak yang telah hadir, membantu, mendukung, serta menyumbangkan tenaga, pikiran, waktu, dan rezekinya,” ujar Cak Jamie.
Menurutnya, kemeriahan sebuah perayaan tidak hanya ditentukan oleh jalannya acara, tetapi juga oleh kebersamaan dan gotong royong banyak pihak.
“Perayaan bukan hanya tentang meriahnya acara, tetapi tentang tangan-tangan yang rela bekerja, hati yang ikhlas berbagi, dan kebersamaan yang membuat semuanya menjadi berarti,” tambahnya.
Cak Jamie berharap semangat kebersamaan tersebut terus dijaga setelah rangkaian perayaan kemerdekaan selesai.
“Merdeka bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga tentang terus menjaga persatuan dan kebersamaan. Dari kita, oleh kita, untuk kita,” tuturnya.
Karnaval Pucang akhirnya bukan sekadar pesta kemerdekaan. Budaya, kreativitas, literasi lingkungan, kepedulian terhadap sampah, UMKM, dan gotong royong berpadu menjadi satu perayaan yang meriah sekaligus bermakna.
Dari Pucang, semangat kemerdekaan kembali dihidupkan melalui hal-hal sederhana: berkarya, belajar, menjaga lingkungan, dan merawat kebersamaan.
*Pengurus PW Jawa Timur
