Oleh. Dwi Suranti, S.Sos.
Labuhan Ratu, Lampung Timur, 14 September 2026 — Taman Bacaan Masyarakat Rumah Peradaban Spirit Nabawiyah Community (TBM RP SNC) Labuhan Ratu, Lampung Timur, menggelar rangkaian Gawi Peradaban Literasi 2026 pada 29 Agustus hingga 13 September 2026. Mengusung tema “Wujudkan Karya, Karyakan Rasa”, kegiatan tersebut mencakup pelatihan mendongeng dan berkisah, pelatihan menulis folklor, diskusi komunitas literasi, hingga penyajian dan apresiasi karya peserta.
Program ini mendapat dukungan melalui Bantuan Pemerintah Fasilitasi dan Apresiasi bagi komunitas literasi dan komunitas sastra melalui Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2026.
Kegiatan pertama berupa pelatihan mendongeng dan berkisah yang berlangsung pada 29 Agustus 2026 di Balai Kecamatan Labuhan Ratu. Pelatihan menghadirkan pendongeng Lampung, Kak Tri Sujarwo, S.E., sebagai pemateri. Peserta terdiri atas guru TPA, guru TK, guru SD, serta siswa kelas 5 dan 6 sekolah dasar dari wilayah Lampung Timur.
Tri Sujarwo mengatakan pelatihan mendongeng dapat membantu peserta mengembangkan kemampuan menyampaikan cerita kepada anak.
“Pelatihan seperti ini penting karena peserta tidak hanya belajar bagaimana bercerita, tetapi juga bagaimana membuat cerita menjadi lebih menarik dan mudah diterima anak. Kemampuan berkisah dapat diterapkan di sekolah maupun lingkungan keluarga,” ujar Tri Sujarwo.
Rangkaian berikutnya adalah pelatihan menulis folklor pada 30 Agustus 2026 di lokasi yang sama. Kegiatan menghadirkan Triamiyati, S.Pd., penulis buku cerita anak, dan Kian Amboro, M.Pd., dosen Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro. Peserta berasal dari kalangan pelajar SMP, SMA, dan pegiat literasi di Lampung Timur.
Triamiyati menilai kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenali cerita yang berkembang di lingkungan mereka sekaligus mengolahnya menjadi karya tulis.
“Folklor tidak hanya penting untuk dibaca, tetapi juga perlu ditulis dan didokumentasikan. Ketika pelajar terlibat dalam proses penulisan, mereka belajar mengenal cerita dari lingkungannya dan mengolahnya menjadi sebuah karya,” kata Triamiyati.
Kian Amboro mengatakan penulisan folklor dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kegiatan literasi dengan pengetahuan sejarah dan budaya lokal.
“Cerita yang berkembang di masyarakat juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang dapat didokumentasikan melalui tulisan. Proses menulis membuat peserta tidak hanya mengenal cerita, tetapi juga memahami konteks di balik cerita tersebut,” ujar Kian Amboro.
Pada 6 September 2026, TBM RP SNC melanjutkan program melalui Ngobrol Literasi di Balai Kecamatan Labuhan Ratu. Kegiatan tersebut membahas pengelolaan komunitas literasi, berbagi pengalaman dan pasar ide komunitas, serta bedah buku.
Materi pengelolaan komunitas literasi disampaikan Solikhul Hadi, M.Pd., sedangkan sesi sharing dan pasar ide menghadirkan Luckyty Giyan Soekarno dari WES Payungi. Bedah buku diisi oleh penulis Eksas Yulianto.
Solikhul Hadi mengatakan penguatan kapasitas pengelola diperlukan agar komunitas literasi dapat mengembangkan kegiatan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Komunitas literasi memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Pengelola perlu saling berbagi pengalaman, bertukar gagasan, dan menemukan bentuk kegiatan yang sesuai dengan lingkungan masing-masing,” kata Solikhul Hadi.
Rangkaian Gawi Peradaban Literasi 2026 ditutup pada 13 September 2026 di TBM RP SNC Labuhan Ratu. Kegiatan penutup diisi dengan penampilan peserta terpilih dari pelatihan mendongeng dan berkisah, kegiatan mewarnai anak, peluncuran sampul buku hasil pelatihan menulis folklor, serta pengumuman apresiasi bagi peserta dalam kategori mendongeng, mewarnai, dan karya folklor.
Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Forum TBM Lampung, Amin Budi Utomo, yang hadir dalam kegiatan penutup, mengatakan keberadaan TBM di daerah masih membutuhkan dukungan sosial dari berbagai pihak. Hal tersebut, menurut dia, penting karena sebaran TBM di Lampung Timur masih terbatas.
“Kami dari Forum TBM Lampung menitipkan TBM RP SNC untuk selalu diberikan dukungan sosial. Mengingat sebaran TBM di Lampung Timur masih sangat terbatas, keberadaan TBM menjadi penting sebagai salah satu ruang belajar yang dekat dengan masyarakat,” ujar Amin Budi Utomo.
Menurut Amin, TBM tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat membaca. TBM juga dapat menjadi ruang belajar alternatif yang dapat dimanfaatkan keluarga, terutama bagi orang tua yang ingin memberikan tambahan ruang pendidikan bagi anak di luar pendidikan formal.
“TBM bisa menjadi pilihan pendidikan alternatif bagi orang tua untuk belajar bersama anak-anak. Karena itu, keberadaan dan keberlanjutan TBM perlu mendapat perhatian dan dukungan bersama,” katanya.
Amin juga mengapresiasi rangkaian Gawi Peradaban Literasi 2026 yang tidak hanya menghadirkan pelatihan, tetapi memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghasilkan karya.
“Yang penting dari kegiatan seperti ini adalah peserta tidak hanya datang dan mengikuti pelatihan, tetapi ada proses berkarya dan hasil yang bisa ditampilkan. Ini menjadi bagian dari bagaimana komunitas literasi membangun kegiatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Amin.
Acara penutup turut dihadiri Forum TBM Lampung, Forum TBM Lampung Timur, Bunda Literasi Desa Labuhan Ratu, Bunda Literasi Kecamatan Labuhan Ratu, serta perwakilan TBM dari sejumlah wilayah di Lampung Timur.
Gawi Peradaban Literasi 2026 menjadi rangkaian kegiatan TBM RP SNC yang mempertemukan pelatihan keterampilan literasi, produksi karya berbasis cerita lokal, penguatan pengelolaan komunitas, dan ruang apresiasi bagi peserta.
*Kontributor Dwi Suranti,S.Sos (Relawan TBM RPSNC Lampung Timur)
