Oleh. Armidi*
METRO, LAMPUNG — Festival Literasi Kota Metro 2026 menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai aktivitas literasi yang berlangsung di Kota Metro sepanjang tahun. Kegiatan yang digelar Pemerintah Kota Metro melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusarda) tersebut berlangsung di halaman kantor Dispusarda Kota Metro, Kamis (17/9/2026).
Sekretaris Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kota Metro, Harmidi, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari keterlibatan jejaring taman bacaan masyarakat dalam agenda penguatan budaya literasi di Kota Metro.
Festival tahun ini tidak berdiri sebagai kegiatan yang berlangsung satu hari. Sejumlah agenda telah dilaksanakan sejak awal 2026, salah satunya kegiatan NONGKI yang digelar bersamaan dengan Car Free Day di Taman Kota Metro. Aktivitas tersebut menghadirkan kegiatan literasi di ruang publik dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan bahan bacaan, pengetahuan, serta berbagai aktivitas kreatif.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut melalui Lomba Perpustakaan Kelurahan yang dilaksanakan pada 3–31 Agustus 2026. Selain itu, terdapat Lomba Bertutur tingkat SD sederajat, storytelling untuk anak TK, talkshow, penampilan kesenian, dan sejumlah kegiatan lain yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Literasi Kota Metro 2026.
Kepala Dispusarda Kota Metro, Farida, menyampaikan bahwa festival diarahkan untuk memperkuat sekaligus memperluas gerakan budaya literasi melalui kegiatan yang edukatif, kreatif, inspiratif, dan kolaboratif.
Pengembangan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa literasi di Kota Metro tidak hanya ditempatkan sebagai aktivitas membaca di perpustakaan. Ruang publik, sekolah, kelurahan, taman bacaan masyarakat, serta berbagai lembaga dan komunitas dapat menjadi bagian dari ruang tumbuhnya kegiatan literasi.
Pada puncak festival, sejumlah penghargaan dan penguatan kelembagaan perpustakaan juga diberikan. Perpustakaan Kelurahan Ganjar Asri menjadi juara pertama Lomba Perpustakaan Kelurahan Terbaik Tahun 2026, disusul Perpustakaan Kelurahan Tejosari sebagai juara kedua dan Perpustakaan Kelurahan Rejomulyo sebagai juara ketiga.
Selain penghargaan, Sertifikat Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) diserahkan kepada Bapperida Kota Metro dan RSU Muhammadiyah Metro. Penyerahan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keberadaan perpustakaan di lingkungan lembaga dan organisasi.
Dimensi literasi juga diperluas melalui penyerahan secara simbolis Pojok Literasi Keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung kepada Dispusarda Kota Metro. Kehadiran ruang tersebut menambah bentuk literasi yang dapat diakses masyarakat, khususnya berkaitan dengan pemahaman terhadap informasi dan layanan keuangan.
Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso dalam kegiatan tersebut menempatkan literasi sebagai salah satu unsur penting dalam pembangunan Kota Metro. Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat kemampuan masyarakat dalam memahami dan menyaring informasi menjadi semakin penting.
Dalam konteks tersebut, keberadaan Forum TBM dan taman bacaan masyarakat menjadi bagian dari ekosistem yang bekerja di tingkat masyarakat. TBM tidak hanya menjadi tempat untuk menemukan bahan bacaan, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang pertemuan, belajar, berbagi pengetahuan, dan menjalankan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lingkungannya.
Kehadiran Harmidi dalam Festival Literasi Kota Metro 2026 sekaligus menjadi bagian dari hubungan antara pemerintah daerah dengan jejaring pegiat literasi. Kolaborasi antarpihak diperlukan agar berbagai kegiatan literasi yang telah tumbuh tidak berhenti pada agenda festival, tetapi dapat terus dikembangkan di ruang-ruang masyarakat.
Festival Literasi Kota Metro 2026 pada akhirnya memperlihatkan bahwa gerakan literasi memiliki banyak pintu masuk. Membaca, perpustakaan, kegiatan bertutur, seni, ruang publik, hingga literasi keuangan merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang memiliki akses terhadap pengetahuan dan mampu menggunakan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Kota Metro, keberlanjutan gerakan tersebut menjadi tantangan berikutnya. Festival dapat menjadi titik temu, tetapi kerja literasi tetap berlangsung melalui perpustakaan, sekolah, taman bacaan masyarakat, komunitas, ruang publik, dan berbagai lingkungan tempat masyarakat belajar serta bertukar pengetahuan.
*Sekertaris Forum TBM Metro
