Kabar  

Usai PISA 2025, TBM Diminta Tak Terjebak pada Angka dan Latihan Soal

Oleh. Syaiful Bachri

Jakarta — Hasil PISA 2025 perlu dibaca sebagai bahan refleksi bersama, bukan semata-mata angka atau peringkat. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) didorong melihat hasil tersebut sebagai pintu masuk untuk memahami persoalan kemampuan membaca anak sekaligus menemukan ruang kontribusi yang dapat dilakukan di tengah masyarakat.

Hal itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi “Membaca PISA, Membaca Indonesia: Apa yang Harus Dilakukan TBM setelah PISA 2025?” yang diselenggarakan Forum TBM pada Sabtu (19/9/2026). Diskusi menghadirkan Anggi Afriansyah, S.Pd., M.Si. dari PP Forum TBM, Helmi Hi. Yusuf, M.P.A. dari PW Forum TBM Maluku Utara, dan Syaeful Cahyadi, S.S. dari Dewan Pendidikan Sleman. Diskusi dipandu Dr. Sry Eka Handayani dari Forum TBM Agam.

Dalam diskusi ditegaskan bahwa PISA merupakan salah satu referensi untuk memahami kemampuan peserta didik, bukan ukuran tunggal keberhasilan TBM. Karena itu, TBM tidak perlu mengubah diri menjadi tempat latihan soal PISA.

Kontribusi TBM justru dapat diarahkan pada penguatan pengalaman belajar anak. Kemampuan membaca yang dibutuhkan tidak berhenti pada kemampuan teknis membaca, tetapi mencakup kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi. Hasil PISA juga perlu dibaca bersama realitas sosial, pendidikan, budaya, dan kondisi belajar anak di masing-masing wilayah.

Membaca Lebih dari Sekadar Bisa Membaca

Persoalan kemampuan membaca anak di lingkungan TBM menjadi salah satu perhatian dalam diskusi. Masih ditemukan anak yang secara teknis mampu membaca, tetapi belum mampu menuntaskan proses membaca dengan memahami isi dan merefleksikannya.

Pada saat yang sama, anak menghadapi lingkungan informasi yang semakin kompleks. Pengaruh teknologi dan penggunaan AI menjadi tantangan dalam membangun daya baca sekaligus kemampuan membedakan informasi yang tepat dan keliru.

Karena itu, aktivitas di TBM dapat diarahkan untuk membangun kemampuan anak dalam memahami informasi dan mengembangkan daya pikir kritis. Kepercayaan diri anak untuk bertanya, berbicara, dan menyampaikan pendapat juga dipandang sebagai bagian penting dari proses tersebut.

Anggi Afriansyah menekankan bahwa tujuan yang perlu diperhatikan TBM lebih luas daripada capaian yang diukur melalui PISA. Daya kritis, keingintahuan, kemandirian belajar, kemampuan membaca situasi, dan adaptabilitas menjadi bagian dari kemampuan yang perlu dikembangkan.

Ia juga mendorong TBM menyediakan akses terhadap teks berkualitas dan pengalaman belajar yang beragam. Aktivitas sederhana seperti membaca grafik, data, poster, artikel, maupun informasi sehari-hari dapat digunakan untuk melatih pemahaman dan penalaran anak.

Tidak Harus Menyeragamkan Program

Diskusi juga mengingatkan bahwa setiap TBM memiliki karakter dan persoalan yang berbeda. Karena itu, program tidak harus dibuat seragam.

Kebutuhan dan persoalan yang paling dekat dengan masyarakat dapat menjadi titik awal pengembangan kegiatan. Bentuknya dapat berupa ruang berkumpul yang positif, kelas bahasa, kegiatan budaya dan sastra, pendampingan belajar, maupun kegiatan yang mempertemukan anak dengan jejaring yang mendukung minat mereka.

Syaeful Cahyadi menekankan pentingnya mempertahankan karakter TBM sebagai ruang pendidikan nonformal dan informal. TBM tidak perlu kehilangan ruang bermain, berekspresi, berdiskusi, dan membangun pengalaman sosial anak hanya karena ingin ikut menjawab persoalan literasi dan numerasi.

Menurut pokok pembahasan dalam diskusi, TBM justru perlu menjawab persoalan lokal dan mengembangkan kegiatan tematik yang berkelanjutan dengan memanfaatkan semangat kerelawanan dan jejaring yang telah dimiliki.

Dari Membaca Menuju Percakapan

Penguatan literasi di TBM juga tidak cukup dilakukan dengan menyediakan buku. Aktivitas membaca perlu diikuti percakapan, pertanyaan, diskusi, pengalaman berpikir bersama, dan refleksi.

Bahan bacaan yang digunakan pun dapat diperluas. Selain fiksi, TBM dapat menghadirkan teks nonfiksi, infografis, data, artikel, serta berbagai sumber informasi yang relevan dengan kehidupan anak.

Pendamping juga memiliki peran penting dalam proses tersebut. Dalam diskusi dikenalkan pendekatan ORIM—Opportunity, Recognition, Interaction, dan Modeling—yang dapat diadaptasi sesuai konteks masing-masing TBM. Pengelola tidak hanya meminta anak membaca, berdiskusi, belajar, dan menulis, tetapi juga memberikan contoh melalui praktik yang mereka lakukan.

Keterlibatan orang tua dan lingkungan sekitar turut menjadi perhatian. TBM dapat membuka ruang komunikasi dengan orang tua melalui forum sosial yang sudah tersedia di masyarakat. Kearifan lokal juga dapat digali sebagai modal sosial untuk mendukung semangat belajar anak.

PISA sebagai Titik Berangkat

Pada akhirnya, diskusi tidak menempatkan PISA sebagai target baru bagi TBM. Kontribusi TBM terhadap peningkatan kualitas literasi tidak harus diwujudkan dengan menjadikan TBM sebagai tempat latihan soal PISA.

Peran yang dapat diperkuat adalah memastikan ruang TBM membantu anak menjadi pembaca yang lebih baik, mampu memahami dan mengevaluasi informasi, berpikir lebih kritis, belajar secara mandiri, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab.

Untuk itu, TBM didorong melakukan refleksi terhadap kekuatan, kebutuhan, dan persoalan lokal yang dihadapi anak dan masyarakat. Dari refleksi tersebut, setiap TBM diharapkan mengembangkan sedikitnya satu kegiatan atau program literasi yang berkelanjutan.

Program tersebut dapat disertai variasi bahan bacaan, aktivitas membaca yang diikuti diskusi dan refleksi, pelibatan orang tua, serta penggalian kearifan lokal. TBM juga didorong mendokumentasikan kegiatan dan perubahan yang terlihat pada anak sebagai data kualitatif.

Dengan cara itu, pembacaan terhadap PISA 2025 tidak berhenti pada angka. Bagi TBM, hasil PISA dapat menjadi momentum untuk melihat kembali kondisi anak di lingkungan masing-masing dan menentukan langkah yang dapat dilakukan melalui ruang belajar masyarakat yang telah mereka bangun.

Loading

Penulis: Syaiful BachriEditor: Heri