Oleh. Atep Kurnia
Het Boekendepot di Garut, Jawa Barat, merupakan usaha yang berkembang dari toko buku Kristen yang didirikan C. J. Hoekendijk pada 1906. Dalam perkembangannya, usaha tersebut mencakup perdagangan buku, perdagangan karya seni, percetakan, penjilidan, jasa penggarisan, pembingkaian, taman baca, perpustakaan, serta penerbitan Garoetsch Nieuws- en Advertentieblad.
C. J. Hoekendijk lahir di Kralingen pada 29 Oktober 1873 sebagai putra Willem Hoekendijk dan Lavina Boshoven. Pada 1895-1899 ia mengikuti pendidikan sebagai zendeling-leraar pada sekolah misi Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV) di Rotterdam. Ia menikah dengan Suzanna Christina van der Kris pada 9 November 1899 dan pada tahun yang sama berangkat ke Jawa.
Pada 1900-1903 Hoekendijk bertugas sebagai zendeling-leraar di Indramayu, kemudian menjalani cuti di Belanda pada 1903-1905. Setelah kembali ke Hindia pada 1905, ia ditempatkan di Garut dan bekerja di sana selama sekitar satu dasawarsa. Di Garut ia membangun gereja dan sekolah, membuka poliklinik dengan dukungan pemerintah, serta menyelenggarakan kebaktian dalam bahasa Belanda dan Sunda.
Dalam kegiatan penyebaran bacaan, pada 1906 ia mendirikan lectuurfonds bernama De papieren zendeling dan toko buku Kristen “het Boekendepot”. Menurut riwayat Hoekendijk, Boekendepot kemudian menyebarkan puluhan ribu buku berbahasa Belanda ke berbagai wilayah Jawa. Selain itu, diterbitkan buku dalam bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan Madura. Pada 1914 Hoekendijk mendirikan mingguan De Vredebode, surat kabar evangelisasi yang tetap diikutinya setelah kembali ke Belanda. Pada Februari 1915 ia meninggalkan Hindia karena kondisi kesehatan istrinya.
Keberadaan Boekendepot mulai tampak dalam berita tahun 1907. Bataviaasch Nieuwsblad memuat iklan “Boekendepot te Garoet” yang menawarkan berbagai boekjes (buku-buku kecil) dan kaya ilustrasi. Untuk memperkenalkan depot tersebut, ditawarkan beberapa Wonderpakket secara cuma-cuma. Wonderpakket No. 2 berisi 26 buku bergambar, sedangkan paket lainnya terdiri atas buku-buku berilustrasi dengan sampul karton. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië menyebut Boekendepot te Garoet dalam pembahasan bacaan keagamaan, antara lain De bekeering van Bertha Merlin karya Fannie Eden serta karya Prof. Dr. Bavinck, Dr. W. Geesink, A. Kuiper Jr., dan Dr. A. Kuyper.
Pada 1913 Boekendepot menerbitkan Kerstklokken karya C. J. Hoekendijk dengan keterangan “Uitgave van het Boekendepot”. Setelah Hoekendijk kembali ke Belanda, Boekendepot tetap beroperasi. De Preanger-bode edisi 30 Januari 1917 melaporkan bahwa Boekendepot milik Zendeling-genootschap telah lama menempati sebuah rumah dan kemudian pindah ke bangunan sendiri karena rumah sebelumnya akan dijadikan penginapan. Pada 1918, Bataviaasch Nieuwsblad masih mencatat Boekendepot melalui iklan sejumlah buku dalam De Vredebode.

Pada 1919, nama J. van Keulen muncul dalam kegiatan keagamaan di Garut. De Preanger-bode mencatat bahwa J. van Keulen ditugaskan memberikan pendidikan agama bagi jemaat Protestan Garut, Tasikmalaya, dan Cianjur, dengan materi sejarah Alkitab dan ajaran moral Kristen. Data genealogis mencatat seorang Jakob van Keulen, yang lahir di Vlaardingen pada 12 Oktober 1886, yang menikah dengan Margaretha Sifra Nieuwstraten di Garut pada 21 Agustus 1920.
Pada 1920 Boekendepot diberitakan mengalami kebakaran. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië menyebut adanya dugaan kesengajaan dan bahwa pengelola depot merencanakan peningkatan pertanggungan asuransi dari f15.000 menjadi f30.000. Pada 1922, Boekendepot menerbitkan kartu pos bergambar pemandangan Garut, antara lain De weg naar Tjipanas-Garoet, gaat als door een sprookjes land, Een schitterend panorama, Een heilig graf dan De bergweide op weg naar Kawa Kamodjan.
Dalam lampiran Koloniaal Verslag van 1921, J. van Keulen tercatat sebagai salah seorang pemilik percetakan (“naam van den eigenaar”) di Garut. Percetakan tersebut memiliki satu mesin cetak kaki dan satu mesin cetak tangan (“1 voetpers en 1 handpers”), serta mempekerjakan tiga orang pekerja bumiputra. Sementara itu, dalam lampiran Verslag van Bestuur en Staat van Nederlandsch-Indië, Suriname en Curaçao van 1924, percetakan tersebut tercatat memiliki satu mesin cetak tangan dan tiga mesin cetak injak (“1 handpers en 3 trappersen”), dengan empat orang pegawai bumiputra.
Pada 1928, Sijthoff’s adresboek mencatat J. van Keulen dalam kaitannya dengan “Boekhandel & Drukkerij Het Boekendepot” di Garut. Kegiatannya meliputi perdagangan buku dan karya seni, percetakan, penjilidan, penggarisan, pembingkaian, taman baca, perpustakaan, serta penerbitan Garoetsch Nieuws- en Advertentieblad. Pada tahun yang sama, De Sumatra post mencatat penerbitan Loepoet dari koeasa Sétan. Tjeritera Tokishi Ishii oleh Het Boekendepot te Garoet, diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh R. S. Wirjopawiro. Pada 1930 J. van Keulen tercatat mengikuti pertandingan menembak Schietvereeniging Garoet, sedangkan pada 1932 ia menjadi salah seorang penanya dalam ceramah Politiek Economischen Bond di Garut.
Garoetsch Nieuws- en Advertentie-blad setidaknya sejak April 1923 meminta surat kabar lain mencantumkan sumber apabila mengambil beritanya. Surat kabar ini kemudian juga disebut Garoetsch Nieuwsblad atau Garoetsch Nbl./Nwsb. dan menjadi sumber berita mengenai berbagai peristiwa di Garut dan sekitarnya. Pemberitaan yang dikutip antara 1927 dan 1935 mencakup bencana alam, kecelakaan, wabah pes, layanan pos dan kereta api, industri sabun, perkembangan politik, serta bioskop.

Dalam surat Edgar du Perron dari Bandung bertanggal 5 Desember 1938, J. van Keulen disebut sebagai “eigenaar van het Boekendepot te Garoet” atau pemilik Boekendepot di Garut. Keterangan editorial surat tersebut juga menyebutnya sebagai seorang zendeling.
Sumber lain mengenai kegiatan percetakan di Garut terdapat dalam tulisan Mikihiro Moriyama (2021). Ia menyebut Kantor Tjitak Boekendepot Garoet sebagai salah satu percetakan bumiputra di Jawa Barat yang menjual buku sekolah berbahasa Belanda serta kamus Belanda-Sunda dan Belanda-Melayu bagi pelajar HIS. Buku yang disebut antara lain Ot en Sien, Pim en Mien, Rood wit en blauw, dan Mijn Hollandsch boek. Sampul Tjarios Enden Djadja karya M. Engkawidjaja mencantumkan buku-buku yang dijual kantor tersebut, antara lain Ilmoe Agama, Gelap dan Terang, Tjonto-tjonto Walanda-Soenda, Pengadjaran boekoe basa Soenda-Walanda, dan Pengadjaran boekoe basa Walanda-Soenda.
Sumber Pustaka:
Bataviaasch Nieuwsblad, 21-05-1907; Bataviaasch Nieuwsblad, 02-03-1918; Christipedia.nl; De Koerier, 05-08-1930; 30-09-1930; 23-04-1932; De Nederlander, 07-04-1916; De Preanger-bode, 30-01-1917, 13-02-1919, 04-04-1923; De Sumatra post, 01-03-1928; Deli courant, 22-05-1939; Edgar du Perron, Brieven: 3 december 1938-9 mei 1940, hlm. 14, surat 05-12-1938; Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 14-09-1907, 10-06-1920; jrpoot.eu; Mikihiro Moriyama, “Colonial Print Culture: Sundanese Book Publishing in the Dutch East Indies in the Early Twentieth Century”, Lembaran Sejarah, Vol 17, No 1 (2021); Sijthoff’s adresboek voor boekhandel, uitgeverij, grafische industrie, 1928, hlm. 220; The New York Public Library Digital Collections; Koloniaal Verslag van 1921; Verslag van Bestuur en Staat van Nederlandsch-Indië, Suriname en Curaçao van 1924.
![]()












